Batman Begins - Precision Select

You Are Reading

0

Bershalawat Kepada Rasulullah SAW

Nau fal Jumat, 08 Februari 2013

Pembahasan kita akan diawali dengan firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS al-Ahzab: 56)
Imam Bukhari berkata; Abu 'Aliyah mengutarakan bahwa yang dimaksud dengan shalawat Allah atas nabi Muhammad adalah pujian-Nya terhadap beliau dihadapan para malaikat-Nya, sedang shalawat malaikat adalah doa. Ibnu Abbas menambahkan makna yushallun adalah 'memberkahi'. Diriwayatkan pula dari Sufyan ats-Tsaury dan ulama semasanya 'Shalawat Rabb adalah rahmat sedang Shalawat malaikat adalah istigfar'.

Keutamaan Shalawat Atas Nabi Muhammad Saw
Pertama, dari Abdullah bin Amru bin 'Ash, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali" (HR Muslim)
Kedua, dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Orang yang pertama kali bersamaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku" (HR. at-Tirmizi)
Sementara itu, Rasulullah SAW juga telah mengajarkan etika dan cara dalam memanjatkan do'a dan permintaan kita kepada Allah. Di antaranya mengucapkan shalawat atas beliau sebelum mengungkapkan permintaan dan permohonan kita kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian hendak berdoa, hendaklah memuji Rabbnya; lalu bershalawat atas nabi, baru kemudian berdoa sesuka hatinya" (HR Abu Dawud dan Tirmizi)
Bahkan Rasulullah SAW sangat tegas dan mengancam bagi siapa yang tidak mau bershalawat ketika nama beliau disebut di sisinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Celaka, bagi siapa yang tidak bershalawat kepadaku ketika namaku disebut disisinya." (HR at-Tirmizi)
Adapun waktu untuk bershalawat tidak terbatas, sehingga tidak ada waktu atau hari-hari khusus dalam mengucapkan shalawat; bahkan dalam sehari minimal kita sudah membaca shalawat 9 kali ketika shalat.
Bagaimanakah Konteks Lafadz Shalawat yang Harus Kita Ucapkan
Shalawat merupakan salah satu bentuk ibadah, dan perlu diketahui bahwa di antara kunci dan syarat diterimanya suatu ibadah adalah mengikuti Rasulullah SAW. Maka sudahkah lafadz shalawat kita sesuai dengan apa yang Rasulullah SAW ajarkan?
Para ulama telah mengumpulkan riwayat-riwayat shahih tentang konteks pengucapan shalawat kepada Rasulullah SAW di antaranya Ibnu Katsir dan Imam Bukhari. Dan silahkan merujuk pada kitab-kitab berikut: Shahih Bukhari juz 14 hal : 484, Shahih Bukhari juz 11 hal 155, Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal 669, Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal 670, HR. Dan lafadz-lafadz shalawat di atas adalah sebagai berikut:
1. اللهم صَلِّ عَلَى محمد، وعَلَى آل محمد، [كَمَا صَلَّيتَ عَلَى آل إِبرَاهِيمَ، إنك حميدٌ مجيدٌ. اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى محمد وعَلَى آل محمد] كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آل إِبرَاهِيمَ، إِنَّكَ حميدٌ مجيدٌ.

2. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وعَلَى آل محمد، كَمَا صليت عَلَى إِبرَاهِيمَ وعَلَى آل إِبرَاهِيمَ، إنك حميدٌ مجيدٌ. وبَارِك عَلَى محمد وعَلَى آل محمد، كَماَ بَارَكْتَ عَلَى إِبرَاهِيمَ وعَلَى آل إِبرَاهِيمَ. إِنَّكَ حميدٌ مجيدٌ.

3. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

4. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد عَبدُكَ وَرَسُولُكَ، كَمَا صَليَّتَ عَلَى آل إِبرَاهِيمَ. وَبَارِك عَلَى محمد وَعَلَى آل محمد، كما بَارَكْتَ عَلَى آل إِبرَاهِيمَ.

Adapun ketika nama beliau disebut di sisi kita, kita dicukupkan untuk mengucapkan "Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam" pada waktu itu.
Shalawat-shalawat yang Tidak Sesuai Dengan Ajaran Rasulullah SAW
Sejak 1400 tahun yang lalu Rasulullah SAW telah berpesan kepada kita selaku umatnya; dengan bersabda: “Berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang adil yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gerahammu. Jauhilah hal-hal yang baru, karena sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan itu tempatnya dineraka.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmizi )
Karena lafadz shalawat yang Rasulullah SAW ajarkan telah jelas maka lafadz-lafadz shalawat selainnya termasuk lafadz yang tidak sesuai dengan ajaran Nabi SAW selain itu, dalam shalawat tersebut juga banyak mengandung pelanggaran terhadap petunjuk beliau; bahkan mengandung kesyirikan .
Dalam kitab “Manhaj al-Firqah an-Najiyah” Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menuliskan beberapa shalawat-shalawat yang menyimpang dari ajaran Nabi serta menerangkan kandungan shalawat tersebut; diantara shalawat tersebut adalah :
1. اللَّهُمَّ صَلِ عَلَى مُحَمَّدٍ طِبُّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائُهَا، وَعَافِيَةُ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائُهَا، وَنُوْرُ الأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا، وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ.

“Yaa Allah, curahkanlah keberkahan dan keselamatan atas Muhammad, penawar hati dan obatnya, penyehat badan dan penyembuhnya, cahaya mata dan sinarnya, juga atas keluarganya.
Sesungguhnya yang menyembuhkan, menyehatkan badan, hati dan mata hanyalah Allah semata. Dan Rasulullah SAW tidak memiliki manfaat untuk dirinya, juga tidak untuk orang lain. Lafadz shalawat diatas menyelisihi firman Allah (Qs. Al-A’raf : 188) dan sabda Rasulullah SAW: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya”(HR. Bukhari).
2. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ الَّذِيْ خَلَقْتَ مِنْ نُوْرِهِ كُلَّ شَيْءٍ.

“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad, yang dari cahayanya Engkau ciptakan segala sesuatu”,
‘Segala sesuatu’, berarti termasuk didalamnya adam, iblis, kera, babi dsb. Adakah orang yang berakal akan mengatakan bahwa semua itu diciptakan dari cahaya muhammad?. Bahkan setan sendiri mengetahui dari apa ia diciptakan dan dari apa adam diciptakan, firman Allah “Iblis berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dari tanah”(Qs. Shaad : 76).
3. الصَّلاَة ُ وَ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَارَسُوْلَ اللهِ، ضَاقَتْ حِيْلَتِيْ فَأَدْرِكْنِيْ يَا حَبِيْبَ اللهِ.
“Semoga keberkahan dan keselamatan dilimpahkan untukmu wahai Rasulullah SAW SAW SAW. Telah sempit tipu dayaku maka perkenankanlah (hajatku) wahai kekasih Allah”
Bagian pertama dari shalawat ini adalah benar, tetapi yang berbahaya dan merupakan syirik adalah pada bagian kedua. Yakni dari ucapannya : “maka perkenankanlah (hajat) wahai kekasih Allah”. Karena hal ini bertentangan dengan firman Allah “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya ?”(Qs. An-Naml : 62) dan firman (Qs. Al-An’am : 17). Serta bertentangan pula hadits Nabi saw:
“jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah”(HR. At-Turmudzi, beliau berkata : Hadits ini hasan shahih).
4. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ مَا سَجَعَتِ الْحَمَائِمُ، وَ نَفَعَتِ التَّمَائِمُ.
“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk Muhammad selama burung-burung merpati berdengkur dan jimat-jimat bermanfaat”
Sejak dahulu Rasulullah SAW telah bersabda :

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa mengalungkan jimat maka dia telah berbuat syirik.”(HR. Ahmad, Hadits Shahih). Dengan demikian, secara jelas bahwa lafadz bacaan shalawat diatas (no 6) bertentangan dengan kandungan hadits ini.
5. اللَّهُمَّ انْشِلْنِيْ مِنْ أَوْحَالِ التَّوْحِيْدِ، وَ أَغْرِقْنِيْ فِيْ عَيْنِ بَحْرِ الْوَحْدَةِ، وَزَجِّ بِيْ فِيْ الأَحَدِيَّةِ لاَ أَرَى وَلاَ أَسْمَعُ وَلاَ أَحُسُّ إِلاَّ بِهَا.
“Ya Allah, keluarkanlah aku dari lumpur tauhid. Dan tenggelamkan aku dalam mata air lautan keesaan. Dan lemparkanlah aku dalam sifat keesaan, sehingga aku tidak melihat, mendengar atau merasakan kecuali dengannya”(Shalawat Basyisyiyah, Karya Ibnu Basyisy).
Ini adalah ucapan orang-orang yang menganut paham wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti). Yaitu suatu paham yang mendakwakan bahwa Tuhan dan makhluq-Nya bisa menjadi satu kesatuan. Sehingga sudah sangat jelas bahwa shalawat ini mengandung kesyirikan.
6. اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً، وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًا عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ، الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ، وَ تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَ تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ، وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ، وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَ يُسْتَسْقَى الغَمَامُ بِوَجْهِهِ الكَرِيْمِ، وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ عَدَدٍ كُلُّ مَعْلُوْمٍ لَكَ.
“Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga dan sahabatnya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui” (Shalawat Nariyah).
Lafadz bacaan shalawat nariyah diatas banyak mengandung kesyirikan, sebab Al-Qur’an menyeru dan Rasulullah SAW pun mengajarkan serta menegaskan kepada kita agar menyakini bahwa hanya Allah semata yang berkuasa untuk menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo’a.
Maka setiap muslim tidak boleh berdo’a dan memohon kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya, bahkan meskipun yang dimintainya adalah malaikat yang diutus atau nabi yang dekat (kepada Allah); firman Allah (Qs. Al-Isra’ : 57).
Dan bagaimana mungkin Rasulullah SAW rela, jika dikatakan sebagai pengurai ikatan dan penghilang kesedihan, sedangkan beliau diutus untuk memberitahukan bahwa tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah semata; “Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah.”(Qs. Al-A’raf : 188).
Semoga bermanfaat bagi penulis –khususnya- dan bagi para pembaca –umumnya- serta menjadikan tambahan khazanah ilmu dalam menjalani syariat Allah. Besar harapan kami untuk bisa dibaca, difahami, disebarkan; sehingga kita dan kaum muslimin tahu akan dasar/dalil yang digunakan dalam menjalani suatu ibadah dan agar lebih berhati-hati dengan produk baru yang telah dikemas rapi dalam bentuk ibadah yang hakikatnya ibadah tersebut tidak ada tuntunannya dari Rasulullah SAW .
Ingat !!!! segala bentuk ibadah yang kita lakukan akan diterima oleh Allah apabila memenuhi dua syarat; Ikhlas lillah Ta’ala dan Ittiba’[mengikuti] Rasul (Nabi Muhammad). Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :
1. al Qur'an dan Terjemahannya.
2. Tafsir Qur'anul 'Adzim, Ibnu Katsir. Daar as-Salam, Riyadh/Daar al-Faiha', Damaskus.
3. al-Jami' li-Ahkam al Qur'an, Imam al Qurthuby. Daar al-Hadits, Qahirah.
4. Riyadhus Shalihin, Imam an Nawawi. Al-Majlis al-Islamy al-Aasiyy/Lajnah Da'wah wa Ta'lim.
5. Shahih Bukhari, Imam Bukhari.
6. Syarah hadits Arba’in, Imam an-Nawawi. Al-Qowam, Surakarta.
7. Syarh Riyadhus Shalihin, Syaikh Shalih Ibnu Utsaimin.
8. Minhaj al Firqoh an Najiyah wa Thaifah al Manshurah/Jalan Golongan yang Selamat, Muhammad Jamil az Zainu. Daar al-haq, Jakarta.
Mantan KIAI NU menggugat Shalawat dan Dzikir syirik, H. Mahrus Ali, Laa Tasyuk.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright 2010 M.N.M